Tips Menonton Badminton di Istora Senayan

Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan secara langsung pertandingan bulutangkis level dunia. Ga usah jauh-jauh keluar negeri, karena Indonesia menyediakan eventnya. Dan beruntung bagi saya yang sedang kerja praktek di Jakarta, lebih beruntung lagi karena pembimbing saya sedang bersemedi ke Batam. Jadi saya bebas. Hahaha. Dan Djarum Indonesia Open Super Series tersebut pun langsung jadi tujuan hidup saya berikutnya.

Mencapai istora senayan tempat berlangsungnya pertandingan ternyata mudah sekali, apalagi bagi saya yang belum genap sebulan di Jakarta. Saya hanya perlu membayar Rp 3.500. Dan tiket bis Transjakarta pun sudah berada dalam genggaman. Beginilah rute perjalanannya.

Gatot Subroto LIPI -> Transit di Semanggi -> Jalan ke Halte Bendungan Hilir -> (naik yang kearah Blok M) Turun di Halte Gelora Bung Karno.

Ketika sampai di Istora Senayan. Membeli tiket masuk. Dan melangkahkan kaki masuk ke dalam stadion. Saya langsung disuguhkan oleh betapa hebatnya atmosfer disana. Semua orang memukul-mukulkan balon yang ada di kedua tangannya. Dan berteriak.

“INDONESIA!!! INDONESIA!!!”

Merindinglah langsung saya.

Ternyata Liliyana Natsir-Tontowi Ahmad yang sedang bertanding. Tepat di depan mata saya. Defense Liliyana Natsir yang luar biasa kuatnya tak mampu ditembus oleh pasangan Korea yang diperkuat oleh Lee Yong Dae. Sementara itu smash bertenaga milik Tontowi Ahmad dengan mudahnya merusak pertahanan Korea.

Semua penonton semakin bersemangat.

Teriakannya makin kencang, namun kini berganti suara.

“ABISIN!!!! ABISIN!!! ABISIN!!”

Bising sekali disana. Dan ketika penempatan bola yang akurat dari Liliyana Natsir gagal disapu oleh Lee Yong Dae menyeberangi net alih-alih tersangkut disana, semua penonton serempak berdiri. Bersorak sorai. Memberikan tepuk tangan yang meriah kepada kedua pemain Indonesia tersebut.

Sementara saya, saya masih takjub. Haha. Saya tidak menyangka bahkan di babak-babak awal seperti ini dukungan yang datang langsung ke Istora Senayan begitu luar biasanya. Nyaris semua sudut penuh. Dan saya pun harus berjuang keras agar dapat tempat duduk yang nyaman.

Indonesia memang luar biasa.

Berikut adalah tips-tips untuk menonton langsung di Istora Senayan :

1. Datanglah sebelum pertandingan pertama dimulai dan datanglah beramai-ramai. Karena kamu akan dapat tempat duduk yang semakin dekat dengan bibir lapangan. Dan fungsi sang teman adalah untuk saling bergantian menjaga sang tempat duduk agar tidak diterkam orang lain dikala semangat untuk pipis melanda. Percayalah, saya kebelet pipis kemarin, namun karena datang sendirian, dan saya sudah berada di depan sekali, sayang rasanya jika harus merelakan sang posisi yang sudah begitu strategis. Saya tahan. Dan lagi-lagi percayalah, tidak nyaman rasanya.

2. Bawalah tas. Saya dodol sekali kemarin, karena saya memang kabur dari kantor, sehingga tas pun saya tinggal disana. Saya datang hanya membawa perut, dan ketika saya hendak membawa minum masuk ke dalam stadion, saya langsung dicegat oleh petugas disana. Botol minum dilarang. Damn. Paling tidak jika kamu bawa tas, botol minumnya bisa terselip disana.

3. Bawalah chiki, makanan ringan, dan makanan berat untuk diri anda, yang anda beli di luar Istora. Chiki bermanfaat untuk menemani anda ketika pemain Indonesia sedang tidak ada yang bertanding di lapangan. Sementara makanan berat bermanfaat untuk membantu mengamankan kantong anda. Nasi goreng disana dijual seharga 25 ribu rupiah satu porsinya. Miskin lama-lama.

4. Bawalah jadwal pertandingan untuk hari tersebut. Percayalah menunggu tanpa kepastian itu membosankan. Paling tidak menunggu dengan kepastian kapan idola anda bertanding itu jauh lebih baik.

5. Bawa kamera. Jelas. Saya bawa kamera kemarin, sayangnya cuma kamera hape. 1,3 Megapixel doang pula. Ngarep apa. Saya sama sekali tidak bisa mengabadikan momen-momen disana. Padahal Taufik Hidayat, Lin Dan, Lee Cong Wei semuanya berkeliaran di depan mata. Sial.

6. Bawa Semangat!! Dan siapkan tenggorokan anda. Karena kamu harus teriak. Harus!