(bukan) Demo (masak)

Tadi siang situasi di kantor saya sedikit riuh. Tepatnya situasi di depan kantor saya. Sayup sayup suara gaduh tersebut terdengar dari kantin tempat saya makan siang.

Dan ketika saya menginjakkan kaki ke parkiran kantor, jelaslah sudah apa sumber kebisingannya.

Seorang pria sedang berdiri tegap di depan sana. Tangan kanannya mengangkat tinggi sebuah toa. Tepat setinggi mulutnya. Dan ia mengoceh berapi api. Menunjuk kesana dan kemari. Sementara itu, orang-orang di sekitarnya sibuk mengibarkan bendera bendera bertuliskan JADEWA (JAKARTA DEVELOPMENT WATCH). Orang-orang yang lainnya sibuk memegangi sebuah gambar yang tidak bisa jelas saya lihat secara keseluruhan, hanya saja ada muka direktur utama saya, pak rinaldy firmansyah.

Demo kawan. Sebuah demo. Bukan demo masak yang jelas.

Hanya saja saya heran akan satu hal. Kenapa yang berdemo disana lebih banyak didominasi oleh ibu-ibu dan anak-anak? Jelas-jelas bukan demo masak itu semua.

Dibayarkah mereka?

Rp 50

maaf jelek kualitas gambarnya

Tadi malam, saya dapat kembalian uang receh Rp 50. Saya kaget uang dengan pecahan ini masih beredar. Bahkan di sebuah supermarket ternama. Tapi entahlah masih laku atau tidak.

Keinginan dan Kebutuhan

Saya membaca kalimat ini di sebuah tempat.

‘if you don’t get it. You don’t need it then’

Dan saya rasa benar juga ya.

Saya tidak dapat tempat kerja praktek yang saya inginkan, yang membangkitkan keinginan saya untuk mengoprek sesuatu. Saya tidak dapat itu. Jadi ya memang mungkin ini takdir karena saya memang tidak butuh itu.

Sebagai penggantinya saya dapat tempat kerja praktek yang menawarkan sebuah kehangatan ala keluarga. Yang menawarkan saya sebuah tempat tinggal, literally. Yang menawarkan saya waktu yang amat sangat luang tiap harinya.

Jadi ya sebenarnya itu mungkin yang saya butuhkan.

Mungkin.

RI-. . .

Mobil sedan putih itu meliuk-liuk di hadapan mobil saya yang sedang melaju di dalam Tol Dalam Kota Jakarta. Hiasan merah-biru di sisi dan kap mobilnya terlihat dengan jelas menyalak ke semua mata pengemudi disana.

Lalu sang mobil polisi tersebut berhenti. Tepat sebelum pintu masuk tol berikutnya. Otomatis menghentikan perjalanan saya, dan membuat semua kaca mobil terbuka dan semuanya melongok hendak tahu ada apa.

Sementara itu di sisi kiri saya, puluhan mobil berjalan beriringan keluar dari jalur masuk tol dalam kota. Diminta atau entah dipaksa untuk meneruskan perjalanannya di jalur biasa alih-alih menempuh perjalanan lebih cepat lewat tol yang tersedia.

Semua polisi lalu lintas berseragam lengkap dengan vest hijau kuning mereka terlihat sibuk.

Dan kemudian dari jalanan yang sudah kosong muncul melaju mobil hitam mewah dengan kencangnya. Secara mentereng menyandang plat bertuliskan RI31. Saya tidak tahu persis siapa ia, yang saya tahu dia pejabat, selevel menteri mungkin. Lalu dengan sekejap mata ia, disusul oleh mobil-mobil para pengawalnya yang juga hitam mengkilat, meninggalkan kami semua yang masih terdiam menunggu di sana. Meninggalkan juga pengemudi-pengemudi mobil lainnya yang terpaksa menambah panjang atau mungkin justru menimbulkan kemacetan di jalur biasa tepat di sisi kirinya.

Kemacetan sepanjang paling tidak 2 km jauhnya.

Lalu saya berpikir sejenak, apa yang ia pikirkan ketika kepalanya menoleh sedikit ke kiri dan melihat suatu fenomena yang ditimbulkan hanya karena ia harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sebuah kemacetan yang jelas-jelas ia timbulkan.

Saya tak heran jika kemacetan Jakarta tak pernah berakhir.

Karena pejabat-pejabatnya tidak pernah tahu bagaimana rasanya tertahan diam di jalanan.

Karena pejabat-pejabatnya hanya mengambil opsi untuk melihat bukan merasakan.

Mandul Semua

Percakapan ini terjadi di perjalanan saya menuju kosan di Bandung dari pool salah satu travel yang melayani perjalanan Jakarta-Bandung. Lebih tepatnya, percakapan ini terjadi di atas jok sebuah motor Honda Kharisma yang sedang membawa saya dan sang supir ojek menyusuri jalanan Bandung. Lebih tepatnya lagi, percakapan ini terjadi di Jalan Tubagus Ismail. Mari kita spesifikkan kembali, percakapan ini terjadi ketika shockbreaker sang motor menimpa cobaan berat bergoyang-goyang di atas lubang jalanan.

Mas Ojek : “Mas, pejabat kita itu mandul semua.”
Saya : “I..iya mas. Haha.”
Mas Ojek : “Liat aja jalanan, ga becus banget bikinnya.”
Saya : “Bener mas! Setuju saya kalo masalah jalan. Kebanyakan lubangnya daripada aspalnya.”
Mas Ojek : “Iyalah bisanya mereka masturbasi doang.”
Saya : *shock*

Saya Lupa Betapa Panasnya Jakarta

 

Mesin-mesin transmisi yang panas memang butuh pendingin. Butuh pendingin untuk menjaga kinerjanya agar tetap ada di performa puncaknya.

Namun saya tidak menyangka.

Sungguh tidak menyangka.

Bahwa suhunya bisa sedingin ini.

Dan tadi siang saya terperangkap di dalam sana 2 jam lamanya, beraktivitas tepat di depan AC raksasa yang menderu terus menghembuskan angin yang dinginnya tidak pake ampun lagi ini. Saya heran, ada setidaknya 4 orang di dalam sana yang setia sedari pagi dan sudah menjalani rutinitas yang sama berada paling tidak 8 jam lamanya. Bahkan saya yakin suhu ruangan sebenarnya berada jauh di bawah nilai ini. Nilai diatas pasti hanya kamuflase belaka karena angin yang dihembuskan sang AC hanya semakin memperburuh keadaan.

Sejenak saya lupa betapa panasnya Jakarta.

Itu Kaki Saya Woy

Kemaren untuk pertama kalinya di dalam hidup saya, saya menjejak naik Bis Transjakarta untuk pertama kalinya dan sendirian. * maaf kampung *

Saya berniat mencari Gramedia di kota Jakarta ini. Mendengar kabar bahwa Andrea Hirata sudah launching novel terbarunya menyebabkan urgensi di dalam dada ini membuncah untuk mengunjungi Gramedia. Saya tidak mau kehabisan novelnya, dan saya tidak mau jadi orang yang terakhir membaca novelnya.

Novel dan membaca memang sudah jadi teman saya sedari kecil. Saya punya koleksi 1000 komik dari berbagai macam judul. Saya punya 50 lebih novel. Saya punya satu lantai di rumah saya yang khusus didedikasikan untuk buku.  Yang bakalan saya ceritain di postingan saya selanjutnya.

Oke, saya pun membulatkan tekad untuk dapat menyentuh Gramedia Matraman yang katanya tempatnya luar biasa. Setelah searching kesana-kemari, saya disuguhkan fakta bahwa untuk sampai kesana hanya butuh naik Bis Transjakarta. Mudah kawan. Mudah. Haha.

Selepas jam kantor habis, jam 5 sore, saya pun bergegas ke terminal Busway terdekat.

Membeli tiketnya yang murah meriah.

Lalu menunggu.

Menunggu.

Dan menunggu.

Hingga akhirnya sang Bis pun datang menyapa. Saya sudah ada di garda terdepan untuk masuk ke dalam Bisnya. Semenntara itu di belakang saya sudah berbaris dengan ganasnya puluhan orang lain yang juga hendak masuk ke Bis yang sama. Saya pun mengencangkan ikat pinggang. Menyingsingkan lengan baju. Dan menarik napas dalam-dalam sembari mensugesti diri sendiri, “kamu pasti bisa Zul. KAMU PASTI BISAA!!”

Bisnya penuh sesak. Dan saya pun memaksakan diri untuk masuk ke space kecil yang masih tersisa. Namun ternyata bukan saya saja yang nekat maju menerjang. Saya justru diterjang. Diterjang oleh gelombang orang di belakang saya. Maafkan dosa-dosa anakmu ini Ibu, kalau-kalau saya habis disini.

“Masih muat. Dorong terus. Masih muat.” celetuk seorang pemuda tegap nan tinggi besar sembari mendorong saya terus masuk ke dalam.

Saya hanya bisa pasrah.

“Masuk lagi.”

“Ayo masuk masih bisa.”

Masih hanya bisa pasrah.

“Geser dong mas.”

Banyak ternyata yang memaksakan masuk. Maaf saya ralat, banyak banget. Sudah tidak jelas posisi tubuh saya. Yang saya ingat, saya berdiri di hadapan seorang wanita sisanya buram. Namun saya terus bertahan. Saya hanya perlu naik busway ini untuk satu halte sebelum berganti koridor.

Ketika saya sampai di halte berikutnya saya pun keluar dengan merdekanya.

Namun satu-satunya hal yang saya ingat ada di bis itu, sang wanita tersebut, berteriak dengan kencangnya.

“ENAK AJA LO NGINJEK KAKI ORANG. LO PIKIR PUNYA LO APA!!”

*saya dimarahi, dan saya akhirnya hanya menemui kenyataan bahwa sang buku bahkan belum muncul disana.”

Bis Malam Tanpa Kenyamanan

Akhirnya saya sampai di jakarta lagi kawan.

Kali ini saya menaiki bis bernama LORENA.

Dan percayalah, LORENA adalah seburuk-buruknya bis malam cepat yang pernah saya naiki. Dan ketika kaki saya menjejak jakarta 16 jam setelah waktu keberangkatan yang seharusnya, saya resmi mencoret LORENA dari list kendaraan umum yang akan saya naiki seumur hidup.

Kenapa?
1. Ia terlambat datang 2,5 jam lamanya.
2. Harganya lebih mahal dibanding bus sebelumnya yang saya naiki yaitu kramat djati.
3. Agen perjalanannya menjanjikan saya bisa turun di rawa mangun. Namun apa lacur, saya diturunkan di lebak bulus. Dimana itu? Saya yang bukan orang jakarta terpaksa bertanya ke kiri dan ke kanan. Repot.
4. Banyak sekali masalah selama perjalanan, bahkan ada penumpang yang naik dengan muka merah padam. Habis bergelut nampaknya ia dengan sang agen perjalanan.
5. Ia berhenti terlalu sering dan terlalu lama.

Huff. . .

Spooky

Saya termasuk orang yang jarang berhubungan dengan tempat-tempat kayak terminal atau stasiun. Terlalu banyak orang disana. Terlalu banyak tangan yang mungkin merogoh kantong saya.

Dan sekarang saya lagi ada di terminal di jogja. Terminal jombor. Namun sayangnya terminal ini berbeda dengan yang lainnya.

Ia sepi.

Nyaris bersih dari noda kehidupan.

Dan semuanya mulai berubah jadi spooky.

Sial. Sekarang saya tidak suka terminal apapun keadaannya.