Pesta Buku Jakarta

Pergi ke toko buku memang selalu menyenangkan buat saya. Dulu ketika masih di Cirebon saya rela meluangkan waktu seminggu sekali buat pergi ke toko buku, ke Gramedia tepatnya. Dan harinya selalu sama, Jum’at. Karena berdasarkan pengalaman yang terbangun selama 8 tahun lebih lamanya, saya tau kalo buku komik baru masuk ke etalase buat dijual itu ari Jum’at. Bukan hari kamis, bukan hari sabtu, tapi selalu Jum’at. Lebih tepatnya lagi hari Jum’at setelah Jum’atan.

Oleh karena itu dikala para karyawan gramedia baru mengeluarkan sang komik segar dan hendak menatanya di etalase, saya sudah menunggu disana. Mencium-cium keberadaan komik baru yang saya ikuti ceritanya dari volume 1. Merecoki sebentar pekerjaan mereka. Lalu pulang dengan beberapa komik di tangan. Sebulan bisa lebih dari 10 komik yang saya beli.

Dan ketika Pesta Buku Jakarta datang melanda Istora Senayan 2-10 Juli 2011 ini saya excited super parah.

Catatan : saya belum pernah pergi ke pesta buku.

Kampung memang rasanya, tapi apa boleh buat, di Cirebon tidak pernah tersentuh yang namanya pesta buku. Sedangkan ketika di Bandung, ah saya terlalu terfokus kepada akademik saya. *cuihh*

Oleh karena itu ketika mendaratkan kaki beserta badan-badannya di Istora Senayan hari Senin (4/07) kemarin, saya merinding dangdut.

Semuanya buku meeen.

Semuanya kayanya ada disana. Semua buku dengan semua penerbit yang ada di Indonesia.

Setiap kali melewati suatu stand penerbit saya selalu tertarik untuk berhenti sejenak. Mengamati buku apa saja yang ada disana. Dan pasti saja ada satu atau dua buku yang nyantol di kening saya. Maksudnya nyantol di pikiran saya.

Beli ga ya. Beli. Enggak. Beli. Enggak. Beli. Enggak.

Begitu terus berlanjut.

Beli Enggak.

Beli Enggak.

Di stand kelima saya mulai pusing.

Sejak saat itu, detik itu, saya memutuskan bahwa berada di Pesta Buku tanpa sebuah orientasi yang jelas akan buku apa yang saya cari adalah sebuah musibah.

Untungnya saya adalah orang yang dikader di kaderisasi kampus, dan kaderisasi himpunan agar menjadi orang yang memiliki visi hidup. *cuihh* Jadi saya tetapkan visi hidup saya, bahwa saya datang kesana untuk membeli 2 buku. Hanya 2. Sebelas Patriot karya Andrea Hirata. Dan Nasional.Is.Me nya Pandji Pragiwaksono.

Hanya 2 buku. Hanya 2 buku. Hanya 2 buku.

Pikiran itulah yang terus saya pompakan ke dalam rongga yang berisi otak saya.

Hanya 2 buku. Hanya 2 buku.

Baiklah saya sudah bertekad. Hanya 2 buku!

Ketika saya sampai di stand Mizan dan Bentang Pusaka kedua buku tersebut sudah ada di depan mata saya, dan jelaslah langsung saya sambar dan saya bawa ke kasir. Namun hebatnya dikasir totalnya jadi ada 3 buku!

1 buku yang lainnya adalah bentuk nyata penyelewengan visi hidup yang saya buat 5 menit yang lalu.

Dan ketika saya pulang dari Istora Senayan, saya menenteng 5 buku!

2 lagi tambahan adalah konsekuensi dari berjalan-jalan keliling Pesta Buku Jakarta.

Termakan oleh rayuan publikasi, dan sinopsis cerita yang tertulis di belakang sang novel.

Godaannya hanya terlalu kuat. Maaf.

p.s: ada 1 hal lainnya yang bikin saya bingung

 

Apa yang penerbit itb lakukan di pesta buku jakarta? Masa iya saya ketemu buku kuliah lagi????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s