Sudah 3 hari ke belakang ini tidur saya terasa tidak nyenyak, makan sahur pun dirasa kurang nikmat. Termenung saya dibuatnya, aneh sekali, setelah pemikiran singkat saya sadar bahwa penyebabnya teramat sederhana. Bulan Ramadhan tersisa kurang dari 10 hari dan saya sama sekali belum belanja. First World Problem.

Oleh karena itu bersama 2 orang teman saya, Sandy Akbar Nusantara (@sandypwk) dan Taufik Widyanugraha (@twidyanugraha), di hari Sabtu yang cerah ini kita akhirnya memutuskan untuk menggapai GEDEBAGE. Malu rasanya udah 4 tahun lamanya tinggal di Bandung tapi sekali pun belum pernah maen ke pusat perbelanjaan pakaian paling terkenal se-Asia Tenggara (kayaknya sih begitu) ini. 

Perjalanan dari ITB ditempuh selama 1,5jam lamanya. Panasnya Bandung di siang hari dan sedikit macet disana sini sama sekali tidak mengurangi niat kami yang mengebu-gebu guna menggasak semua yang ada disana. Hingga akhirnya sang tempat tujuan pun terlihat dengan indahnya.

Begitu sampai mata kami langsung dimanjakan oleh berbagai macam plang bertuliskan

“Obral 10.000”

“5.000an”

Dan sahut-sahut para pedagang langsung terdengar keras ditelinga.

“JAKET…JAKET…DIOBRAL..DIOBRAL…DUA PULUH RIBU SAJA!”

“CELANA, MAU PENDEK MAU PANJANG, SEMUA MERK DUA PULUH LIMA RIBUAN!!”

Oh My God, ternyata rumor-rumor kemurahan harga yang merajalela di tempat ini benar nyata adanya. Bergerilya lah kami semua, masuk keluar satu toko demi toko lainnya. Mencoba satu demi satu. Bertanya harga satu barang demi barang lainnya. Hingga akhirnya . . . pusing ini kepala. Bingung saya dihadapkan oleh sekian banyaknya pilihan. Dan masalah klasik yang selalu saya hadapi ketika berburu pakaian dimanapun itu muncul juga di tempat nun jauh di mato ini, masalah ukuran. Jadi buat orang yang berpendapat bahwa “Size doesn’t matter”, it’s bullshit. SIZE DOES MATTER! Beberapa barang yang saya taksir ternyata kekecilan, kalo Jaket ga bisa diresletingin, kalo Kemeja ga bisa dikancingin, kalo celana mungkin lewat paha pun tidak. Atau ternyata barang yang saya taksir tersebut punya ukuran yang keterlaluan besarnya, bahkan beberapa bisa dijadiin selimut. *sigh* Another world problem.

Dan akhirnya saya cuma beli satu jaket. Iya cuma satu. 25ribu harganya. Ukurannya cukuplah buat ngantongin 6 bayi.

Oiya diakhir perjalanan yang indah ini juga saya sempat mampir di suatu tempat bernama Gudang Garment, mencoba mencari peruntungan mendapatkan celana jeans baru. 30menit saya habiskan buat nyari ukuran yang rasional, dan akhrinya hanya ketemu satu jeans yang sesuai itupun pesimis rasanya bakalan muat. Namun ga dosa dan ga bayar kan kalo sekedar dicoba terlebih dahulu.

Saya bawa masuk ke dalam Fitting Room.

Buka Celana.

Tarik napas sejenak.

Baca Bismillah.

Lalu mulailah dicoba sang jeans yang tadi dibawa.

Eh muat ternyata!!! Tapi ada yang aneh rasanya, entah kenapa ko sensasinya ga sama kaya make celana jeans biasanya ya.. Pas ngaca ketemu sudah jawabannya, it’s a SKINNY JEANS. BELI!!!

Image

bukan.. itu bukan tales bogor

Hari ini di DKI Jakarta lagi ada pesta demokrasi. Harusnya sih gitu. Yah paling ga buat sebagian besar yang namanya ada di Daftar Pemilih hari ini bisa jadi saatnya berpesta demokrasi. Buat yang namanya ga tercantum di daftar pemilih baik dikarenakan oleh hal yang tidak disengaja ataupun disengaja dan ditutup-tutupi dengan dalih human error ya legowo saja. Toh tetep ngerasain efek pesta demokrasinya kan, libur dimana-mana.

Ngomong-ngomong soal daftar pemilih, saya jadi bertanya-tanya, nama saya ada di daftar pemilih gubernur ibukota Indonesia ini ga ya?

Image

Iya itu KTP saya, ga usah terlalu fokus sama fotonya. Ganteng memang.

Okelah, ceritanya saya punya 2 KTP. Melanggar hukum memang. Maaf Tuhan. Tapi entah juga yang diatas itu fungsinya apa. Soalnya tinggal di alamat yang disana pun rasa-rasanya tidak pernah. Maaf alamatnya saya tutup, takut ada yang penasaran terus malah didatengin lagi saya ntar.

Bapak saya hanya bilang, ‘sudah saatnya kamu bikin KTP Jakarta nak’.

Dan saya yang masih lugu, baru selesai UAN SMA, hanya bisa manggut-manggut.

‘Kirim 2 foto 2×3 ke alamat papah di bogor’ titah sang ayahanda.

Dan terbanglah foto saya waktu itu, 2 lembar banyaknya, 2×3 ukurannya, ke bogor. Jatuh langsung ke pelukan bapak saya yang dengan tangan terbuka menunggu datangnya sang kiriman.

Selang seminggu kemudian, bapak pos datang ke rumah saya di Cirebon. Membawa serta sebuah surat yang datangnya dari mana lagi kalo bukan dari bogor. Dan berisikan . . . . KTP Jakarta saya. Iya itu yang fotonya ada diatas itu. Belum terlaminating dan belum ada tanda tangan sayanya.

Bangga rasanya punya KTP Jakarta. Berasa modern. Hahaha.

Tapi tak dinyana dan tak disangka. Setelah KTPnya saya tanda tangan, setelah motor oranye dengan lambang merpati milik pas pos menderu menjauh hingga tak terdengar suaranya, saya baru sadar.

Saya baru sadar kalo nama saya di KTP itu . . . salah secara luar biasa.

TEUKU ZUKFIKAR AMIN

secara akte lahir harusnya

TEUKU ZULFIKAR AMIN

Hancur berkeping-keping sudah kebanggan yang sempat membuncah. Dan hal pertama yang terpikir adalah, jika dengan nama lahir seperti itu saya dipanggil IJUL. Apa jadinya kalo saya tinggal di Jakarta dan harus memakai KTP yang sudah dibuat ini sebelumnya. Maka saya akan dipanggil …

IJUK !

What in the world!!

Yang Terhormat, Bapak Presiden Indonesia dimanapun Anda berada.

Perkenalkan sebelumnya Pak, saya Zulfikar. Rakyat Indonesia yang dengan penuh kesungguhan hatinya datang ke Jakarta tanggal 6 September kemarin. Rakyat biasa yang membawa sebuncah harapan akan bangkitnya Indonesia. Rakyat yang berbagi atap yang sama dengan Bapak kemarin, yang datang langsung ke GBK dan hanya bisa pulang dengan kekecewaan luar biasa.

Biarkan saya bercerita sedikit tentang keadaan tadi malam Pak.

Jika berbicara tentang kekecewaan, saya sama kecewanya dengan Bapak, saya juga kecewa berat. Lelah rasanya melihat permainan sepakbola timnas yang tak ada daya juangnya. Lelah juga melihat sikap kekanakan beberapa penonton yang dengan arogannya melemparkan puluhan botol air minum ke tengah lapangan, dan berusaha menembak pemain-pemain lawan dengan petasan.

Saya pulang dengan rasa kesal. Dan yang lebih kesalnya lagi, saya ketinggalan travel yang sudah saya pesan! Harus menunggu lagi 2 jam lamanya, lapar, kelelahan, dan sendirian. Dan dalam kesendirian tersebut kemana saya berlabuh? Internet tentu saja. Saya buka twitter, tempat dimana pertukaran informasi berlangsung dalam kecepatan yang mengerikan, dan kekesalan ini justru semakin bertambah ketika saya membaca bahwa Bapak meninggalkan GBK ditengah ‘kekacauan’ yang sedang berlangsung hanya karena kecewa dengan ulah para supporter. Bukannya justru berusaha menenangkan keadaan. Benarkah itu Pak? Atau itu hanya berita karangan dari para kuli tinta belaka?

Waktu 2 jam ternyata lama juga, saya berakhir membaca puluhan artikel mengenai Bapak. Semua berita baru-baru ini mengenai Bapak, mulai dari aksi ‘walk out’ di GBK, Nazaruddin, hingga akhirnya sebuah artikel mengenai pidato Bapak pada pembukaan Sidang Ke-44 ASEAN Ministerial Meeting. Hal yang terakhir ini sedikit menarik perhatian saya.

Jika boleh saya kutip sebagian kata-kata Bapak :

I believe one of the greatest tasks of ASEAN lies in people to people.  We are all agreed that a 21st century ASEAN, to be dynamic and relevant, must be people-centered and people-driven.

Saya yakin dengan sepenuh hati, bahwa semuanya itu bisa saya lihat di Stadion Gelora Bung Karno malam itu. Saya menjadi saksi mata sendiri betapa hebatnya kekuatan masyarakat. Bapak seharusnya duduk di kategori yang lebih merakyat Pak, kategori 1, 2 atau 3 saya rasa bisa menggambarkan fenomena yang akan saya ceritakan yang membawa saya melupakan semua amarah, dan kita pun beralih dari cerita tadi malam ke masa kini.

Penyaruan Batasan

Jika berbicara mengenai ASEAN, nyaris semua orang pasti mengetahui sejarahnya, Pak. Paling tidak hal tersebut pernah hadir sepintas di kehidupan kita semua, kala duduk di bangku SD, dikemas sebagai salah satu pokok bahasan pada kurikulum mata pelajaran IPS.

Saya masih ingat bahwa ASEAN didirikan pada tahun 1967, pada Deklarasi Bangkok yang diikuti oleh 5 negara, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Saya juga masih ingat bahwa Indonesia diwakili oleh Adam Malik pada deklarasi Bangkok tersebut. Namun apa boleh buat pak, ingatan SD saya hanya sampai pada tahap sana. Sisa pengetahuan lainnya mengenai ASEAN sudah mulai blur dan didesak keluar ingatan saya oleh bermacam-macam ilmu pengetahuan lainnya yang dijejalkan selama 15 tahun ini lewat kurikulum yang padat dan berganti-ganti. Jadi izinkan saya berkunjung ke teman setia saya sebentar pak. Biarkan saya berkunjung dulu ke dunia maya.

Baiklah Pak, setelah 5 negara pendiri ini berturut-turut negara-negara lainnya masuk ke ASEAN, diawali oleh Brunei Darussalam, kemudian Vietnam, Laos, Myanmar, dan terakhir Kamboja. Itulah kesepuluh negara ASEAN yang sampai saat ini menghuni keanggotaannya.

Dan pada tahun 2003, pada KTT ASEAN IX di Bali tercetuslah sebuah deklarasi bernama  Bali Concord II mengenai upaya perwujudan Komunitas ASEAN dengan ketiga pilarnya (politik-keamanan, ekonomi, dan sosial budaya). Sejak saat itulah ASEAN mulai bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih besar.

Maaf saya kelamaan berbicara sendiri dan meninggalkan Bapak. Komunitas ASEAN itu sebuah lompatan yang hebat Pak. Di otak saya sekarang sedang menari-nari gambaran akan seperti apa ASEAN pada tahun 2015 ketika komunitas ini terbentuk dan aktif berjalan. Saya membayangkan bahwa ASEAN ini adalah Uni Eropa baru!

Saya membayangkan bagaimana nantinya saya bisa berjalan-jalan dengan bebas mengunjungi semua negara di ASEAN tanpa harus mengurus paspor dan visa lagi. Saya membayangkan adanya suatu mata uang baru yang menggantikan seluruh mata uang di ASEAN ini, mata uang yang kuat, yang berpengaruh. Saya membayangkan penyatuan budaya yang semakin cepat, semuanya membaur, sama rasa. Tidak akan ada lagi batasan jelas yang memisahkan negara-negara ASEAN. Semuanya menjadi saru, namun jelas menarik, dan menguntungkan.

Kita akan hidup di sebuah standar yang sama. Standar yang lebih tinggi daripada yang Indonesia punya sekarang Pak!

Standar ekonomi yang lebih tinggi.

Standar keamanan yang lebih tinggi.

Standar sosial yang lebih tinggi.

Saya memang bukan ahlinya di bidang ini. Bahkan tahu mengenai ini semua pun baru saya alami 5 menit yang lalu. Tapi saya tahu bahwa Komunitas ASEAN ini bakalan jadi hebat.

Ah saya bersemangat sekali Pak! Apalagi mengetahui bahwa ketua ASEAN sekarang adalah Indonesia, yang berarti Indonesia menentukan betul seberapa cepat kita berakselerasi menuju komunitas ASEAN tersebut. Yang berarti mungkin saya bisa berperan lebih dalam mewujudkannya. Berperan sesuai kapabilitas dan kapasitas saya.

Tapi, (memang menyebalkan ketika mendengarkan selalu ada kata ‘tapi’ di setiap ide dan gagasan yang muncul Pak, yang sedikit menggoyahkan iman dan membuat ide cemerlang tersebut terlihat cacat) tantangannya memang besar sekali dalam mewujudkan komunitas ASEAN ini. Penghalang pertama dan yang paling keras justru datang dari 2 negara pendiri ASEAN ini.

Konflik Indonesia – Malaysia.

Semua orang Indonesia nampaknya membenci Malaysia, dan begitu pula sebaliknya. Entahlah benar atau tidak Pak, yang jelas mayoritas kejadiannya adalah seperti itu. Indonesia merasa Malaysia mencuri hal-hal berharga miliknya. Dan Malaysia berpikiran hal lain yang mereka pegang teguh dan mereka rasa benar. Kita dan Malaysia itu ibarat air dan minyak sekarang yang walaupun berada di satu botol yang sama namun enggan untuk bersatu.

Penghalang berikutnya lagi adalah kebodohan masyarakatnya, Pak. Andaikata saya tidak datang ke GBK kemarin, saya pasti tidak akan emosi berlebihan, saya tidak akan membuka twitter, saya tidak akan membaca mengenai Bapak, dan saya tidak akan pernah tahu apa itu komunitas ASEAN. Saya akan tetap bodoh tentang ASEAN ini, seperti mungkin ratusan juta penduduk ASEAN lainnya.

People Driven

Maaf saking bersemangatnya, saya jadi lupa tentang fenomena di GBK yang hendak saya ceritakan ke Bapak.

Seperti yang kita tahu Pak. GBK sedikit rusuh tadi malam. Banyak orang yang melempar-lempar botol minuman ke tengah lapangan, walaupun beberapa tidak tepat sasaran dan jatuh di kepala supporter lain di depannya. Namun hal itu tidak akan terjadi kalau saja tidak ada orang mengawali semuanya. Ketika satu botol pertama melayang di udara dan di depan mata ribuan penonton disana, meletuplah sang gunung api emosi para supporter. Frustrasi karena 20 tahun tanpa prestasi. Orang-orang di sekitarnya melakukan hal yang sama, melemparkan botol minuman ke tengah lapangan.

Dan ketika botol-tidak-tepat-sasaran yang pertama mendarat di kepala supporter lainnya (Bapak beruntung berada di kursi VVIP yang aman sentausa), yang langsung memegangi kepala, berdiri, berbalik arah dan memaki, orang-orang lain di sekitarnya langsung melakukan hal yang sama. Memaki para pelempar botol. Dan kemudian satu GBK pun melakukan hal yang sama. Yah walaupun tidak semua sih, polisi di depannya hanya berdiri menonton sambil beberapa diantaranya merokok.

Siapa sebenarnya yang memadamkan api yang tersulut disana? Polisi? Bukan. Kan saya sudah bilang tadi Pak. Polisinya hanya menonton sambil merokok.

Supporter lainnya lah yang menenangkan keadaan. Puluhan ribu supporter lainnya.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang latah. Itu intinya. Kita dikendalikan oleh gerakan orang yang lainnya. Lihat saja betapa cepatnya trend berganti di negara ini. Lihat saja betapa menjamurnya handphone blackberry di negara ini. Lihat saja betapa seringnya trending topic di twitter worldwide berasal dari Indonesia.

Dan saya dengan bangga bisa berpendapat bahwa hal tersebut adalah hal yang positif nan bermanfaat Pak.

ASEAN BLOGGER

Hasil kunjungan dan selancaran saya di dunia maya membawa saya juga ke sebuah tempat bernama ASEAN Blogger. Suatu gagasan baru yang diprakarsai orang Indonesia, gagasan yang menjadi naungan bagi seluruh blogger se-ASEAN guna membantu terwujudnya komunitas ASEAN 2015. Gagasan yang Bapak sendiri bilang inovatif.

Dan disinilah saya bisa bermanfaat.

Saya sudah bercerita kan Pak, seberapa mengerikannya kecepatan transfer informasi di dunia maya. Orang-orang (saya mengaca kepada diri saya sendiri) sekarang jauh lebih banyak menghempaskan dirinya ke jaringan social media. Berinteraksi dengan orang entah di belahan dunia mana. Membaca entah tulisan siapa. Opini bertebaran dengan bebasnya disana.

Dan itulah yang bisa ASEAN Blogger seluruhnya manfaatkan, Pak.

Kita harus jadi korek api. Setiap orang sudah dibekali sumbunya masing-masing. Tugas ASEAN Blogger adalah memantiknya agar menyala dan meledakannya, sehingga semua orang tersadar. ASEAN Blogger harus jadi pintu informasi mengenai komunitas ASEAN.

ASEAN Blogger harus bisa menggebrak dunia, karena saya yakin satu ledakan besar itu dampaknya jauh lebih cepat walaupun memang belum tentu lebih hebat dibandingkan ledakan ledakan super mini yang rutin terjadi tiap hari.

Tapi waktu penyadarannya tinggal 3 tahun lagi. Jadi saya tetap yakin metoda yang dipakai itu haruslah suatu ledakan besar.

Caranya?

ASEAN Blogger mengorganisir suatu tindakan massal yang dilakukan tiap bulannya, yaitu tindakan menulis massal mengenai komunitas ASEAN, yang waktu dipublishnya dilakukan bersama-sama. Sesaat setelah tulisan tersebut dipublish marilah kita menggerakkan semua lapisan masyarakat.

Kita gemparkan dunia twitter.

Kita buat ASEAN Blogger jadi trending topic nya.

Dan biarkan masyarakat-masyarakat yang latah tersebut memakan umpannya.

Biar semua dunia tahu Pak.

Biar semuanya cerdas.

Biar ASEAN disegani!!

Salam hangat dan penuh hormat.

Teuku Zulfikar Amin

Pecinta makanan dan olahraga.

Kerjaan saya dari minggu kemarin cuma satu.

Gonta-ganti theme wordpress blog saya.

Dan entah kenapa ga pernah ada yang nyantol.

Gemes juga lama-lama. Mungkin itu salah satunya yang menyebabkan seminggu kemarin saya mandek nulis. Bahkan saya sempat pernah sampai ke tahap dimana berpikiran, ‘ah pindah ke blogspot aja ah. Lebih gampang ngotak-ngatik layout blognya.’

Dan benarlah itu yang saya lakukan, saya import semua konten di blog saya yang ini dan bermigrasi ke blogspot. Saya sudah membuka akun baru, mengeksport semua konten blog saya yang di wordpress ini, lalu kemudian searching layout mana ya yang bagus.

Ternyata bagus-bagus semua.

Dan saya jadi malah bingung, mau pake yang mana ya.

Memutuskan memakai layout yang mana saja saya lamanya bukan main.

Hingga akhirnya hari berganti.

Berganti lagi.

Dan saya lupa password blogspot saya. Luar biasa.

Gagal sudah. Dan beruntunglah rumah saya yang lama masih membukakan pintu hatinya, sehingga saya bisa kembali lagi. Menulis lagi disini. Dan semoga tidak berpikir untuk pindah lagi.

Pergi ke toko buku memang selalu menyenangkan buat saya. Dulu ketika masih di Cirebon saya rela meluangkan waktu seminggu sekali buat pergi ke toko buku, ke Gramedia tepatnya. Dan harinya selalu sama, Jum’at. Karena berdasarkan pengalaman yang terbangun selama 8 tahun lebih lamanya, saya tau kalo buku komik baru masuk ke etalase buat dijual itu ari Jum’at. Bukan hari kamis, bukan hari sabtu, tapi selalu Jum’at. Lebih tepatnya lagi hari Jum’at setelah Jum’atan.

Oleh karena itu dikala para karyawan gramedia baru mengeluarkan sang komik segar dan hendak menatanya di etalase, saya sudah menunggu disana. Mencium-cium keberadaan komik baru yang saya ikuti ceritanya dari volume 1. Merecoki sebentar pekerjaan mereka. Lalu pulang dengan beberapa komik di tangan. Sebulan bisa lebih dari 10 komik yang saya beli.

Dan ketika Pesta Buku Jakarta datang melanda Istora Senayan 2-10 Juli 2011 ini saya excited super parah.

Catatan : saya belum pernah pergi ke pesta buku.

Kampung memang rasanya, tapi apa boleh buat, di Cirebon tidak pernah tersentuh yang namanya pesta buku. Sedangkan ketika di Bandung, ah saya terlalu terfokus kepada akademik saya. *cuihh*

Oleh karena itu ketika mendaratkan kaki beserta badan-badannya di Istora Senayan hari Senin (4/07) kemarin, saya merinding dangdut.

Semuanya buku meeen.

Semuanya kayanya ada disana. Semua buku dengan semua penerbit yang ada di Indonesia.

Setiap kali melewati suatu stand penerbit saya selalu tertarik untuk berhenti sejenak. Mengamati buku apa saja yang ada disana. Dan pasti saja ada satu atau dua buku yang nyantol di kening saya. Maksudnya nyantol di pikiran saya.

Beli ga ya. Beli. Enggak. Beli. Enggak. Beli. Enggak.

Begitu terus berlanjut.

Beli Enggak.

Beli Enggak.

Di stand kelima saya mulai pusing.

Sejak saat itu, detik itu, saya memutuskan bahwa berada di Pesta Buku tanpa sebuah orientasi yang jelas akan buku apa yang saya cari adalah sebuah musibah.

Untungnya saya adalah orang yang dikader di kaderisasi kampus, dan kaderisasi himpunan agar menjadi orang yang memiliki visi hidup. *cuihh* Jadi saya tetapkan visi hidup saya, bahwa saya datang kesana untuk membeli 2 buku. Hanya 2. Sebelas Patriot karya Andrea Hirata. Dan Nasional.Is.Me nya Pandji Pragiwaksono.

Hanya 2 buku. Hanya 2 buku. Hanya 2 buku.

Pikiran itulah yang terus saya pompakan ke dalam rongga yang berisi otak saya.

Hanya 2 buku. Hanya 2 buku.

Baiklah saya sudah bertekad. Hanya 2 buku!

Ketika saya sampai di stand Mizan dan Bentang Pusaka kedua buku tersebut sudah ada di depan mata saya, dan jelaslah langsung saya sambar dan saya bawa ke kasir. Namun hebatnya dikasir totalnya jadi ada 3 buku!

1 buku yang lainnya adalah bentuk nyata penyelewengan visi hidup yang saya buat 5 menit yang lalu.

Dan ketika saya pulang dari Istora Senayan, saya menenteng 5 buku!

2 lagi tambahan adalah konsekuensi dari berjalan-jalan keliling Pesta Buku Jakarta.

Termakan oleh rayuan publikasi, dan sinopsis cerita yang tertulis di belakang sang novel.

Godaannya hanya terlalu kuat. Maaf.

p.s: ada 1 hal lainnya yang bikin saya bingung

 

Apa yang penerbit itb lakukan di pesta buku jakarta? Masa iya saya ketemu buku kuliah lagi????

Untuk ke 5 kalinya dalam 1 bulan terakhir, gw kembali bepergian keluar kota. Kali ini tujuannya ke kampung halaman, Cirebon. Dan kali ini alasannya sakit.

Deru debu yang melanda perut gw, yang menyebabkan semuanya berputar inilah yang menyebabkan hadirnya sang rasa sakit.

Dan demi tingkat kenyamanan dalam hal penyembuhan yang berada pada puncak tertinggi, maka dalam keadaan lemas gw memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

Perjalanan pulang hingga segala macam keadaan di Cirebon tidak ada yang menarik. Gw hanya berguling-guling kesana kemari diatas kasur. Berteriak manja ke ibunda. Beralasan sakit. Lalu minta diambilin ini dan itu. Haha. Maaf mama. Tapi hasilnya luar biasa. Rasa melilit di perut menghilang dan dengan segera rasa lemas berganti rasa kuat yang menyebabkan saya langsung sigap bermain PES. Tapi tetap saja, gw beralibi belum sehat dan ‘meminta tolong’ ke ibunda ini dan itu. Sekali lagi maaf mama. Saya tau surga ada di telapak kaki ibu. Tapi mau gimana lagi, sesekali doang.

Karena nikmatnya berada di kampung halaman, maka gw memutuskan untuk memperpanjang selama mungkin waktu berada disini. Alih-alih kembali ke jakarta hari minggu sore dengan kereta Cirebon Express terakhir hari itu, gw memutuskan untuk kembali ke Jakarta hari Senin subuh. Menaiki kereta Cirebon Express pertama yang berangkat menembus kabut.

Semua berjalan sempurna pada awalnya.

Saya bangun tepat waktu. Mandi dengan segarnya. Packing dengan sigapnya. Dan sarapan dengan nikmatnya. Lalu kemudian berangkat ke stasiun dan tiba pas pada waktunya, sesuai rencana, 30 menit sebelum sang kereta berangkat.

Kaki ini langsung gw perintahkan untuk beranjak ke arah loket tiket. Menyiapkan uang sejumlah 70ribu rupiah pas. Lalu mengantri, dan ketika tiba giliran gw bertransaksi, gw dihadapkan oleh sebuah tulisan yang jelas terpampang.

“BISNIS HABIS. EKSEKUTIF HABIS. TIKET BERDIRI.”

Jelas. Karena tidak ada pilihan lain terpaksalah kaki ini gw elus dan berkata dengan lembut, ‘kuatkan dirimu nak. 3 jam saja.’ Sembari membeli sang tiket tanpa tempat duduk tersebut.

Alhasil di kereta pun gw harus duduk di sambungan kereta. Berdiri dengan gagahnya tepat di depan sebuah tulisan bertuliskan berikut ini

Menahan bau sepanjang jalan.

Dan sempitnya sang kereta ditambah banyaknya penumpang yang juga harus berdiri di kereta menyebabkan posisi gw terjepit.

Apalagi ketika kereta menginjakkan kaki di stasiun Jatibarang. Ketika semakin banyak penumpang yang masuk kedalam. Mendesak ke sana kemari. Dan tiba-tiba sesosok kurus yang sebelumnya berada di sebelah gw berubah wujud menjadi sesosok pasangan muda yang tentu saja lebih lebar daripada sang pemuda kurus tadi.

Posisi saya semakin terpojok.

Kaki lurus tidak bisa.

Duduk bersila kini sudah tidak mungkin lagi rasanya.

Sementara itu sang pasangan muda dengan hebatnya saling tertidur di pundak masing-masing pasangannya. Membentuk posisi seperti memeluk.

Sementara saya lagi-lagi hanya bisa terpojok. Menatap iri. Dengan kondisi tulang yang meringis ngilu tertekan.